Bismillahirrahmanirrahim

Penulis: Ummu Hamzah
Muroja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar

Pada tulisan yang telah lalu telah dibahas mengenai hal-hal yang diharomkan bagi wanita haid. Pada tulisan bagian kedua ini, akan dipaparkan tiga permasalahan penting terkait wanita haid, yaitu mengenai boleh tidaknya wanita haid masuk ke dalam masjid serta menyentuh dan membaca Al Qur’an. (lebih…)

Iklan

Bismillahirrahmanirrahim

Penulis: Ummu Uwais Herlani Clara Sidi Pratiwi
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar

Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki. (lebih…)

Bismillahirrahmanirrahim

Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah
Muraja’ah: ustadz Abu Salman

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ (lebih…)

Bismillahirramanirrahim

Wanita Sebagai Pendidik

  1. Tidak meremehkan hak Allah (kewajiban beribadah kepada-Nya).
  2. Baik bacaan Al-Qurannya dan berusaha menghapalkannya.
  3. Hapal dengan baik hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa membantunya dalam urusan agama.
  4. Tidak menyia-nyiakan hak suaminya.
  5. Tidak menyia-nyiakan hak anaknya.
  6. Menghiasi diri dengan akhlak mulia.
  7. Menghiasi diri dengan kesabaran.
  8. Memiliki kemampuan dalam mengatur waktunya.
  9. Mendapatkan izin suaminya untuk keluar mengajar.
  10. Tidak ikhtilath (campur baur dengan pria).
  11. Patuh dengan busana muslimah.
  12. Ikhlas dalam bekerja.
  13. .Bertakwa kepada Allah.
  14. Berilmu.
  15. Bersifat santun dan lembut.
  16. Bertanggungjawab.
  17. Berpengetahuan dan berwawasan, serta mengetahui masalah-masalah aktual.
  18. Berkepribadian tangguh dan berakhlak mulia.

Metode Mengajar dan Mendidik

  1. Melakukan pendekatan dengan akhlak yang baik.
  2. Senantiasa mengucapkan salam kepada anak didik.
  3. Memotivasi mereka untuk selalu shalat tepat waktu.
  4. Mengingatkan mereka tentang keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  5. Selalu mengingatkan tentang cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Menceritakan kisah para Nabi a’alihimus salam, shahabat radhiyallahu ‘anhum, dan pahlawan Islam.
  7. Mengajarkan rukun islam dan rukun iman.
  8. Memberi mereka pelajaran tentang akidah yang benar dan mengingatkan mereka dari akidah yang rusak.
  9. Memotivasi untuk menghapal Al-Quran dan mengamalkannya.
  10. Memotivasi untuk menghapal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkannya.
  11. Mengajarkan perilaku teladan dan akhlak mulia.
  12. Menarik perhatian anak didik dan menumbuhkan kerinduannya untuk belajar.
  13. Keteladanan.
  14. Memotivasi untuk gemar belajar dan mencintai ilmu.
  15. Mengajarkan etika berbicara dengan orang lain.
  16. Mengajarkan zikir-zikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  17. Mengingatkan tentang halal dan haram.
  18. Melarang bergaul dengan teman yang jelek.
  19. Mengajarkan adab islami.
  20. Mengajarkan menjaga hak orang lain.
  21. Melatih membaca dan menulis secara kontinyu.
  22. Memberikan solusi dari permasalahan mereka.
  23. Memotivasi untuk tekun belajar, serta menghormati ilmu dan guru.
  24. Menganjurkan untuk berpenampilan baik dan bersih.
  25. Melarang untuk taklid buta.
  26. Menganjurkan untuk berbakti kepada kedua orangtua.
  27. Mendidik anak untuk cinta jihad dan keberanian.
  28. Mengajarkan anak perempuan hukum khusus yang berkaitan dengan mereka dan hikmah diturunkannya.
  29. Menyayangi mereka.
  30. Mengajarkan kesabaran.
  31. Menganjurkan memberi maaf (jika itu bermanfaat), menahan emosi, dan membalas kejelekan dengan kebaikan.

Metode Mengajar Mata Pelajaran

  1. Memulai dengan mengucapkan salam.
  2. Memotivasi melalui nasihat ringan.
  3. Memulai menjelaskan pelajaran secara berurutan dan sistematis.
  4. Pemecahan masalah.
  5. Selalu memantau dan mengevaluasi.
  6. Menjauhi kata-kata kotor ketika memarahi anak dan tidak memukul wajah.
  7. Memperhatikan keadaan murid yang bersalah.
  8. Menyampaikan nasihat ringan di akhir pelajaran bila waktu masih tersisa.
  9. Berpisah dengan mereka dengan menyampaikan salam.

Kutipan Bermanfaat dari Etika Menjadi Ibu Guru karya Ummu Mahmud Al-Asymuni, penerbit: Pustaka Elba, Surabaya (dengan perubahan seperlunya dari redaksi www.muslimah.or.id)

Bismillahirrahmanirrahim

Tanya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأََةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ … -وَفِي رِوَايَةٍ- الْمَرْأََةُ كَالضِّلَعِ … (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri)1, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk…” Dalam satu riwayat: “Wanita itu seperti tulang rusuk….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Apakah memang wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki ataukah hanya penyerupaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang kedua?

Jawab:
Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta` yang saat itu diketuai Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu menjawab, “Zahir hadits menunjukkan bahwa wanita –dan yang dimaukan di sini adalah Hawa w– diciptakan dari tulang rusuk Adam. Pengertian seperti ini tidaklah menyelisihi hadits lain yang menyebutkan penyerupaan wanita dengan tulang rusuk. Bahkan diperoleh faedah dari hadits yang ada bahwa wanita serupa dengan tulang rusuk. Ia bengkok seperti tulang rusuk karena memang ia berasal dari tulang rusuk. Maknanya, wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok maka tidak bisa disangkal kebengkokannya. Apabila seorang suami ingin meluruskannya dengan selurus-lurusnya dan tidak ada kebengkokan padanya niscaya akan mengantarkan pada perselisihan dan perpisahan. Ini berarti memecahkannya2. Namun bila si suami bersabar dengan keadaan si istri yang buruk, kelemahan akalnya dan semisalnya dari kebengkokan yang ada padanya niscaya akan langgenglah kebersamaan dan terus berlanjut pergaulan keduanya. Hal ini diterangkan para pensyarah hadits ini, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul Bari (6/368) semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka semua. Dengan ini diketahuilah bahwa mengingkari penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam tidaklah benar.” (Fatwa no. 20053, kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta`, 17/10)

1 Al-Qadhi rahimahullahu berkata: “Al-Istisha` adalah menerima wasiat, maka makna ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan terhadap para istri maka terimalah wasiatku ini.” (Tuhfatul Ahwadzi)
2 Dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullahu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”

Bismillahirrahmanirrahim

Apakah boleh shalat memakai pantaloon (celana panjang ketat) bagi wanita dan lelaki. Bagaimana pula hukum syar’inya bila wanita memakai pakaian yang bahannya tipis namun tidak menampakkan auratnya?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Pakaian yang ketat yang membentuk anggota-anggota tubuh dan menggambarkan tubuh wanita, anggota-anggota badan berikut lekuk-lekuknya tidak boleh dipakai, baik bagi laki-laki maupun wanita. Bahkan untuk wanita lebih sangat pelarangannya karena fitnah (godaan) yang ditimbulkannya lebih besar. (lebih…)

Bismillahirrahmanirrahim

Penulis: Kitab Al Hijab (Departemen Agama Saudi Arabia)

Kejelekan Tabarruj (berhias ala jahiliyah, seronok)

· Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul.

Barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikitpun.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
((كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إلاَّ مَنْ أبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى))
“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang menolak” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah orang yang menolak itu? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah menolak.” (lebih…)