Mungkin ada yang bertanya, “kok tulisan Agar Para Pengaku Salafi Mau Berpikir Lurus” dimuat lagi?”. Hmmm…. Tanya Kenapa ?!. Sejatinya, tulisan tersebut telah ditulis oleh ustadz Abu Hamnah As-Salafi dalam blog beliau (salafibeneran) bulan maret yang lalu. Namun perlu diketahui, kami mengangkat tulisan tersebut bukan karena keinginan kami memperkeruh suasana melainkan pihak mereka-lah (almakassari.com) yang belum juga mencabut tulisan mereka yang berisi tuduhan-tuduhan terhadap Wahdah Islamiyah. Kami menyebutnya dengan “tuduhan” karena tulisan mereka memang hanya sebatas tuduhan tanpa bukti, sekali lagi tanpa bukti. Haati burhaanakum inkuntum shodiqiin.

Beberapa tuduhan dalam tulisan mereka itu seakan-akan menggambarkan kebencian yang sangat terhadap Wahdah Islamiyah. Dan secara pribadi yang sangat tidak bisa kami terima adalah ungakapan mereka “tapi ustadz2nya sendiri…., coba antum cari ceramah-ceramahnya yang mengajarkan tauhid, mungkin kalau mengajarkan, mengajarkan tapi tidak tergambar bahwa mereka punya perhatian khusus terhadap tauhid”. Membaca tulisan mereka itu sempat menimbulkan keraguan dalam benak kami, “ah, masa iya sih??”. Alhamdulillah, sore itu juga pertanyaan itu terjawab, kami menyempatkan sholat tarwih di Wihdatul Ummah dan kebetulan ustadz yang mendapat kesempatan mengisi ceramah tarwih adalah ustadz kami Ust. Bahrunnida, Lc Hafidzhullah. Awalnya beliau bercerita tentang nabi Yusuf ‘alahissalam namun lama kelamaan pembahasannya mulai terfokus pada permasalahan tauhid. Bahwa dalam dakwah tauhid harus diutamakan daripada yang lainnya karena demikianlah dakwah para nabi yang pertama kali adalah bagaimana manusia mentauhidkan Allah.  Demikian pula dalam tarbiyah-tarbiyah yang diadakan tidak pernah terlepas dari pembahasan urgensi tauhid. Ini membuktikan bahwa kami tidaklah menomorduakan permasalahan tauhid.

Dan untuk menyanggah tuduhan-tuduhan mereka yang lain dapat anda baca lebih lengkap dengan meng-klik link di bawah ini:

Mudah-mudahan sajian kami ini dapat memberi sedikit pencerahan kepada para thullab (utamanya yang masih baru) yang terkena subhat ini agar senantiasa mengutamakan tabayyun dalam menilai saudanya.

Wallohu Musta’an.

Iklan